Gejala Difteri Pada Anak di Indonesia

Difteri pada anak adalah jenis penyakit yang diakibatkan oleh bakteri C. Diphtheriae dan menular melalui cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi juga.

Salah satu gejala difteri pada anak di Indonesia berupa sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas, sulit menelan, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan sangat lemah.

Gejala difteri pada anak di Indonesia yang lain yaitu kelenjar getah bening di leher membesar dan terasa sakit.

Difteri ini bisa merenggut ribuan nyawa, bahka yang dikatakan selamat juga akan mengalami kelumpuhan otot dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal.

Salah satu pencegahan terbaik difteri untuk saat ini yaitu dengan vaksinasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus).

Apabila gejala difteri pada anak diatas terlihat, maka segeralah bawa ke dokter atau rumah sakit untuk dirawan dan apabila perlu diisolasi dari orang lain untuk mencegah penularan.

Dari data Kemenkes, ada sekitar 20 provinsi di Indonesia yang melaporkan kasus difteri. Kasus difteri ini banyak ditemua di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Di Indonesia sendiri kesadaran akan pentingnya dari vaksinasi masih rendah. Difteri ini masih bisa ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko.

Banyak sekali faktor yang bisa meningkatkan seseorang bisa terkena difteri, salah satunya yaitu :

  • Lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat
  • Belum mendapat vaksinasi difteri terbaru
  • Mempunyai gangguan sistem imun
  • Mempunyai sistem imun yang lemah

Salah satu hal yang bisa dilakukan apabila terkena difteri yaitu :

  1. Istirahat total dirumah dan batasi aktivitas fisik sampai sembuh total
  2. Hindari kontak dengan orang lain supaya tidk turut menyebarkan difteri. Bila perlu, berlakukan isolasi ketat

Jangan sampai kita mengabaikan penyakit ini, karena komplikasi bisa terjadi dan tingkat bahaya akan semakin naik.

Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi :

  • Tertutupnya saluran napas oleh selaput
  • Kerusakan pada otot jantung (miokarditis)
  • Kerusakan pada saraf (polinerupati)
  • Kelumpuhan
  • Infeksi paru (gagal napas atau pneumonia)

Lebih lanjut, difteri ini bisa merenggut nyawa. Bahkan meski sudah mendapatkan pengobatan, 1 dari 10 penderita difteri meninggal dunia. Jumlah kematian akibat difteri akan meningkat menjadi 1 : 2 apabila tidak segera diobat.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, masalah difteri ini bisa dicegah dengan vaksin. Di Indonesia, vaksin difteri ini biasanya diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis) sebanyak 5x mulai dari bayi usia 2 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan 4-6 tahun.

Itulah informasi yang bisa disampaikan mengenai gejala difteri pada anak di Indonesia pada situs aryantoherbal.com, semoga apa yang sudah disampaikan bermanfaat serta bisa untuk dijadikan referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *